Retro

http://covetliving.com/wp-content/uploads/2011/04/vintage-bike-via-pinterest.jpg

Mengalihkan duniaku? Benarkah? Itu kamu? Retro?

Aku suka dia bukan dari pandangan pertamaku. Tapi kenapa rasanya, aku ingin melihatnya dan ingin suka padanya pada pandangan pertamaku?

Hey Retro, siapa kamu, mampu mencuri perhatianku dari kesibukanku, lebih dari itu, kau menempati ruang kesibukkan ku. Baru aku menemukkan orang sepertimu, kamu cepat sekali mengalir menjalar di dalam pikiranku.

Tak sengaja saat itu, entah kapan tepatnya, aku tidak selalu mengingat awal dari pertemuan dan perkenalan dengan seseorang yang baru. Yang pasti saat itu aku suka melihat kamu dengan penampilan kamu yang meneduhkan. Kamu beranjak duduk di kursi kelas tempat kita menjadi mahasiswa yang menerima ilmu dari dosen. Sungguh nyaman melihatmu pada waktu itu. Tersirat langsung dalam pikiranku, kamulah si Retro, Pria dengan bukunya yang menutupi seperbagian wajahnya saat itu. Klasik, satu lagi yang muncul dari pikiranku tentang kamu.

Apakah dulu aku sempat ingin menemukan seseorang yang klasik? Entahlah, yang pasti aku suka itu. Retro ternyata kamu lebih tua satu tahun dariku. Retro ternyata kamu berbeda. Retro ternyata kamu sungguh retro. Dan Retro aku menyukaimu.

Aku mulai mengenalmu dengan sikapmu yang tenang, berwibawa, karismatik dan sedikit sifat guyonan yang kamu miliki. Saat itu aku bertemu dengannya sedang kumpul bersama teman-teman yang juga teman baruku di dunia kampus. Ada tempat yang kini menjadi tempat favorit untuk di singgahi teman-teman denganku, kita tahu nama tempat itu adalah KOPMA (KOPerasi Mahasiswa). Tempatnya sederhana, hanya meja dan kursi kantin selayaknya, juga dengan ciri khas es krim yang di jual di sana. Hubungan pertemanan kita berlanjut dengan di awali mengerjakan tugas, lalu berakhir dengan main sebuah permainan yang menjadi salah satu jembatan keakraban kita, yaitu werewolf. Permainannya juga sederhana, namun dapat berarti besar untuk kita, karena berkat permainan tersebut pula, kita menjadi semakin dekat satu sama lain, tertawa dengan lepas bersama. Di keadaan bagaimana pun itu, kita tetap mempertahankan pertemanan yang baru di mulai itu. Tak banyak yang aku ingat, hanya dengan seiring berjalannya waktu, kita semakin sejalan satu sama lain, meski memang tak ada yang seutuhnya benar-benar utuh dan rapi dalam sebuah pertemanan.

Semakin hari semakin ku dekat dengannya. Aku merasa beruntung bisa sedekat ini dengannya. Retro sudah seperti supir spesial untukku, dengan motornya yang sederhana, namun mewah bagiku. Entah pemikiran ku sekarang ini akan menjadi hal yang terlihat bodoh di masa depan nanti atau kah hal yang sungguh tak sia-sia. Aku merasa sedikit ada yang kurang, aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, mengapa guyonannya tak dia beri padaku?, banyak sudut pandang dari pemikiran ku sendiri. Malas kalau harus berpikir hal-hal yang membuat ku ragu. Belum banyak hal-hal yang membuatku senang sekali dari Retro. Aku pikir sampai detik ini, aku hanya menciptakan kesenanganku sendiri dengan mengaguminya. It’s like delay feedback? Yups

Dan hey, aku sempat di buatnya berpikir lagi, dia sulit untuk di tebak, di prediksi gerak-gerik nya, sikapnya apalagi perasaannya. Aku bosan dengan ejekan teman ku yang menjurus tentang aku yang suka pada Retro, aku pikir ini salah sampai sejauh ini. Ini seperti aku membuat jarak dengannya, aku sulit untuk berinteraksi dengannya, bahkan bicara dengannya saja harus membuatku berpikir untuk menyusun kata, dan yang lebih parah nya lagi, keberanianku menciut dan itu membuat jarak kiloan meter bagiku. Aku takut aku salah lagi, aku yang membuat jalannya, aku harap ini bukan kejadian masa lalu yang terulang. Terkadang ada saat nya aku merasa tidak perlu untuk menanggapi perasaan ini lagi, karena dengan perubahan yang tidak ku inginkan, selalu saja tidak sesuai dengan rencana ku.

Aku, rindu Retro yang dulu. Sampai saat ini dia masih membuatku mengagumi nya, tapi saat ini aku merasa ada diri seseorang yang sama pada diri Retro. Orang yang sudah membuatku tak nyaman selama 3 tahun yang lalu, di masa-masa SMA ku dulu. iya kah?. Aku menulis ulang kisah yang tak ku ingin kan saat dulu?. Sungguh aku benar-benar tidak ingin Retro menjadi seseorang yang sudah membuatku sulit untuk dekat  lagi dengan nya, untuk selalu merasa sesak saat melihat hal-hal tentang nya. Oke, aku tidak mau mengaitkan Retro dengannya, orang yang tak ada lagi gunanya jika aku membahasnya lagi.

Sikap nya yang lucu, tak bosan rasanya melihat raut wajahnya yang selalu tersenyum. Tapi aku ingin kau melakukan hal yang sama kepada ku retro, hal yang kamu lakukan terhadap teman-teman yang lain. Berbicara lebih sering, memberikan candaan mu yang spontan itu, bercerita dengan kenyamananmu sendiri. Betapa sulitnya aku membaca sikap mu Retro. Bedanya kamu yang aku suka, tapi bedanya kamu juga yang buat aku bingung.

Selama itu tidak menjadi penghalang untuk pertemanan kita sampai sekarang ini, aku pikir biar saja lah. Waktu akan menjawab semuanya.

Sudah memasuki semester 2, di perkuliahan kita ini. Tak bisa di pungkiri, banyak yang berbeda dari waktu ke waktu, bertambah orang, bertambah waktu yang di miliki setiap orang, dan di sini lah kita mendapatkan banyak hal yang membuat kita nyaman, tapi pasti ada saat yang namanya masalah datang menghampiri, masuk dan keluar dari kehidupan yang kita miliki.

Dan ini lah masalahnya, pertemanan yang agak mulai rumit, sebab akibat dari sifat baru yang baru saja di perkenalkan dari satu sama lain. Kita merasa bosan dengan rutinitas, kita merassa ingin menjauh dari kegiatan berkumpul, berbincang, main permainan werewolf, ada salah satu anggota yang keluar masuk grup chat, ada salah satu teman kita yang mulai dengan dramanya yang terlalu, ada yang mulai memiliki perasaan lebih dan menjalin hubungan, ada yang sudah menjalin hubungan dan di akhiri dengan menjauhi satu sama lain, karena persetan dengan yang namanya putus, ada yang tak di ijinkan untuk bergabung main bersama lagi karena pacarnya yang over protective, membicarakan salah seorang yang masih teman kita di belakangnya. Semuanya terasa aneh, palsu dan aku ingin ini segera berakhir.

Di mulai dari Retro, lebih detail ke pertemanan ku, dan aku. Hal bodoh yang telah ku lakukan, dan penyesalan itu datang lagi. Aku menyukai dia si berandal yang ku tau. Perlakuannya yang membuat teman-temanku yang lain merasa ada hal yang berbeda antara aku dan dia. Tentu aku juga sependapat dengan teman-temanku. Awal nya bertanya, apa iya aku suka dia, yang aku pun tau kalau dia sedang dekat dengan salah satu temanku juga. Dan akhirnya, aku menceritakan kebodohan ku bahwa aku menyukai berandal itu kepada salah satu teman perempuanku. Sampai akhirnya berandal itu tau. Dan akhirnya pula aku mendengar dengan sangat jelas dan sadar, bahwa yah, dia juga menyukai ku, selain menyukai teman ku juga. Dan sampai akhir sekali aku tau, dia hanya menyukai sikap ku terhadapnya, bukan seluruh nya. Beruntung lah aku, tidak menjadi pilihannya, tetapi betapa menyesalnya aku sudah menjadi pilihan untuknya.

Aku merasa sudah terlalu jauh aku pergi dari my husbandable, iya dia Retro ku. Dari awal kedekatan kita, “aku dan Retro”, aku yang selalu bilang kagum pada Retro, aku sebut dia husbandable di depan teman-teman ku. Lucu sekali waktu itu, pertama kali aku panggil dia husbandable, sampai aku memberi nama kontak nomernya husbandble, dan aku namai kontak nomerku wifeable  di-handphonenya. Dan sekarang aku ingin sekali melihat isi kontak di hp nya, masih wifeable kah, atau sudah dia ganti. Menarik panjang napasku dan aku hembuskan saat ini, dan tak lama aku akan berkata, aku rindu Retro. Dengan penuh penyesalan, sudah sempat berpaling dari menyukainya. Di tambah lagi teman-teman ku yang kecewa karena mengacuhkan dukungan mereka untuk ku terus menyukai Retro yang lebih pantas untukku, di bandingkan dengan si berandal yang bisa saja menjerumuskan aku ke hal-hal yang tak di inginkan, begitulah katanya.

Aku yang kini mulai terbiasa lagi, setelah rasa nya sedikit menggangu, melihat si berandal yang pernah ku sukai dekat dengan pilihannya itu. Aku merasa aku harus kembali menjadi aku yang terlihat nyaman, santai saat pertama kali di kenal teman-teman ku. Dan yah aku berjalan sedikit demi sedikit, memulai lagi keadaan yang hampir sama seperti awal. Aku mulai berbicara dengan leluasa terhadap pilihannya si berandal juga pada si berandal itu, dan juga pada my husbandable Retroku. Seperti hari baru, setiap harinya aku harus menyenangkan, untukku juga untuk mereka teman-teman ku.

Retro kembali yah, karena aku juga kini sudah kembali untukmu, aku harap akan lebih menyenangkan kali ini. Kamu dan aku, juga kita dan teman-teman. 

 

Komentar