Aku Gapai

Aku Gapai 

Di tengah keramaian kota ini, aku berpikir bagaimana caranya aku bisa menyebrangi jalan ini dengan mudah, tanpa ada rasa keraguan yang akan menjadi ketakutan untuk melakukannya, bahkan besar kemungkinannya ketakutan ku menjadi masalah untukku juga oranglain. Selama lampu hijau untuk kendaraan masih terus menyala, pandangan ku terdiam pada satu arah, karena pikiran ku yang sibuk mencari cara. Dan aku tersadar dari lamunanku, setelah orang-orang di sekitar ku mulai menyebrangi jalan dengan ramai. Sementara aku menyusul mereka dan segera berlari ke sebuah tempat yang sudah ku temukan dalam lamunan ku tadi.

 

 

Tiba lah aku di tempat ini, berbeda dengan suasana yang sebelumnya aku rasakan, di sini begitu tenang bahkan bisa di bilang sepi sekali, hanya ada keramaian benda-benda yang mengisi ruangan tempat ini, juga cermin yang mengelilingi ruangan ini. Tempat nya yang khas dengan budaya sunda, angklung yang tergantung di sisi dinding dekat pintu, dan alat musik sunda lain yang rapi sekali di lihat dan seseorang yang kini berdiri di hadapanku, dan “ akhirnya kamu kesini juga Neta”, suaranya yang lembut dengan sedikit bergetar, karena usianya yang kini sudah menjadi milik seorang nenek untuk aku cucu nya. “ Nenek maaf aku terlambat”, sembari mencium tangan nya, dan segera mengajak nenek untuk duduk di kursi nya. Nenek masih saja datang ke tempat ini, kami menyebutnya sanggar tari jaipong, meskipun nenek sudah tidak bisa mengajar dan melatih tari jaipong kepada murid-murid sanggar nya, nenek tetap saja merawat sanggar yang sudah lama tidak di jadikan tempat latihan tari lagi. Karena tuntut tan perekonomian, nenek tidak lagi membuka sanggar tari ini lagi, karena tidak ada yang akan melatih para penari nya. Nenek tidak pernah menyuruh ku untuk menari atau untuk menjadi pelatih tari meskipun aku menguasai tarian yang nenek ajari padaku dulu.Tapi entah mengapa, aku selalu merasa bersalah karena belum bisa bantu keinginan nenek untuk menghidupkan kembali sanggar tari nya.

Kini masa kuliah ku hampir selesai, skripsi sudah ku lalui, sekarang hanya sidang untuk yang terakhir kali nya di kampus. Aku ingin segera menyelesaikan masa kuliah dan mulai melamar kerja, di bidang kerja yang sudah lama aku idam-idam kan. Sederhana saja mungkin, aku ingin bekerja di sebuah perusahaan di bidang editor penerbitan buku. Pengalaman ku cukup banyak dalam dunia pekerjaan, tetapi kini aku merasa kesulitan untuk mencari pekerjaan tetap. Selain karena perang batin ku yang selalu kepikiran untuk melanjutkan bakat nenek yang juga turun padaku, keadaan ekonomi ku juga belum cukup untuk mewujudkan salah satu dari keinginan atau mungkin kebutuhan ku untuk bekerja. Karena kini aku hanya memiliki seorang nenek yang sudah seorang diri tanpa pendamping hidup yang sudah lama meninggal, begitu juga ibu ku. Dan dua adik-adik ku yang harus aku biayai sekolah dan kehidupan sehari-hari nya, karena ayah yang pengangguran dan hanya bisa menjaga nenek dan adik-adik ku di rumah.

Sempat gagal dalam dunia pekerjaan sudah jadi hal yang biasa dan dapat ku atasi, meski sungguh sulit menghadapi nya, jatuh, kecewa, sedih, kadang enggan untuk bangkit, tetapi selalu saja ada bagian dari diri ku untuk menangkap semua motivasi yang ada di hadapan ku. Dalam keadaan terpuruk membuat aku yang tenang berubah menjadi orang yang sangat menyebalkan, aku marah pada keadaan ayah yang seperti bukan ayah untuk keluarga, marah pada keadaan ku yang mudah lelah dan mengeluh, butuh beberapa waktu untuk mengembalikan moody nya seorang wanita seperti ku. Namun keadaan ini pula yang membuatku selalu cepat bangkit, berusaha merubah keadaan menjadi keadaan yang bukan masalah untuk aku juga keluarga ku.

Sudah beberapa waktu ku pakai untuk berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk mencari pekerjaan seadanya untuk modal memperbaiki sanggar tari nenek dan merekrut pelatih tari, karena berdasarkan peluang yang ku lihat, tarian jaipong ini sudah jarang di temui, mungkin dari sini aku bisa mengembalikan budaya tari ini menjadi populer di kalangan masyarakat daerah sunda ini. Ku cari di setiap situs, lowongan pekerjaan yang masuk dengan kriteriaku, dan cocok untuk kemampuan yang ku miliki, aku bekerja menjadi SPG di book store. Tidak buruk, pekerjaan ini membiarkan ku dengan leluasa mellihat orang-orang yang membutuhkan buku, dari semua jenis buku. Kuliah akhir ku masih bisa ku jalani dengan baik, karena pekerjaan ku ini hanya pekerjaan part time dengan gaji per bulan 2jt hingga 3jt. Beruntungnya aku yang masih bisa kuliah dengan beasiswa yang di dapat, juga kedua adik ku. Dan aku masih menjalan kan freelancer ku sebagai desainer visual, pendapatan nya lumayan untuk ku tabung di gabungkan dengan penghasilan part time ku. 

Tiga bulan berlalu, hari ini kelulusan kuliah S1 ku di jurusan Ilmu Komunikasi. Berakhirnya masa kuliah ku, maka di mulai nya dunia kerja tetap ku. Sanggar tari nenek sudah rapi dari renovasi, segala urusan peresmian kembali sanggar tari sudah di atasi dengan bantuan banyak dari teman-temanku. Dan kini pelatih tari sudah siap melatih generasi baru para seniman tari.
Namun tepat setelah peresmian, nenek meninggalkan nama nya dan amanah nya padaku, adik-adik ku juga ayah. Sebenarnya aku menyesal, belum saat nya nenek pergi, aku masih belum mewujudkan ciita-cita ku untuk bekerja di perusahaan editor, layak nya orangtua meski aku terlambat mengatakan nya, nenek menulis surat yang di selipkan di saku salah satu baju ku, dan isi suratnya, “ melihat mu bahagia, dan bisa menerima segala hal yang terjadi di dunia ini dengan ikhlas, mau jadi apapun nanti kamu, tidak perlu jadi pelatih tari atau bekerja di perusahaan editor, cukup untuk ku bilang kamu berhasil. Doakan selalu nenek dan keluarga mu ini yaa Neta ku”.

Tapi nek aku kini jadi seorang editor buku-buku terbaik karya anak bangsa, dan aku bersyukur atas itu. Dan ayah mulai membuka toko kecil dekat rumah, dengan bantuan dari kedua adik ku yang beranjak dewasa. Dan sanggar tari nenek di penuhi banyak penari berbakat, yang terus berkarya di megahnya panggung pentas. Aku menggapainya.

 

Komentar