Sempat gagal dalam dunia pekerjaan sudah jadi hal yang biasa
dan dapat ku atasi, meski sungguh sulit menghadapi nya, jatuh, kecewa, sedih,
kadang enggan untuk bangkit, tetapi selalu saja ada bagian dari diri ku untuk
menangkap semua motivasi yang ada di hadapan ku. Dalam keadaan terpuruk membuat
aku yang tenang berubah menjadi orang yang sangat menyebalkan, aku marah pada
keadaan ayah yang seperti bukan ayah untuk keluarga, marah pada keadaan ku yang
mudah lelah dan mengeluh, butuh beberapa waktu untuk mengembalikan moody nya
seorang wanita seperti ku. Namun keadaan ini pula yang membuatku selalu cepat
bangkit, berusaha merubah keadaan menjadi keadaan yang bukan masalah untuk aku
juga keluarga ku.
Sudah beberapa waktu ku pakai untuk berpikir, akhirnya aku
memutuskan untuk mencari pekerjaan seadanya untuk modal memperbaiki sanggar
tari nenek dan merekrut pelatih tari, karena berdasarkan peluang yang ku lihat,
tarian jaipong ini sudah jarang di temui, mungkin dari sini aku bisa
mengembalikan budaya tari ini menjadi populer di kalangan masyarakat daerah
sunda ini. Ku cari di setiap situs, lowongan pekerjaan yang masuk dengan
kriteriaku, dan cocok untuk kemampuan yang ku miliki, aku bekerja menjadi SPG
di book store. Tidak buruk, pekerjaan ini membiarkan ku dengan leluasa mellihat
orang-orang yang membutuhkan buku, dari semua jenis buku. Kuliah akhir ku masih
bisa ku jalani dengan baik, karena pekerjaan ku ini hanya pekerjaan part time
dengan gaji per bulan 2jt hingga 3jt. Beruntungnya aku yang masih bisa kuliah
dengan beasiswa yang di dapat, juga kedua adik ku. Dan aku masih menjalan kan
freelancer ku sebagai desainer visual, pendapatan nya lumayan untuk ku tabung
di gabungkan dengan penghasilan part time ku.
Tiga bulan berlalu, hari ini kelulusan kuliah S1 ku di
jurusan Ilmu Komunikasi. Berakhirnya masa kuliah ku, maka di mulai nya dunia
kerja tetap ku. Sanggar tari nenek sudah rapi dari renovasi, segala urusan
peresmian kembali sanggar tari sudah di atasi dengan bantuan banyak dari
teman-temanku. Dan kini pelatih tari sudah siap melatih generasi baru para
seniman tari.
Namun tepat setelah peresmian, nenek meninggalkan nama nya
dan amanah nya padaku, adik-adik ku juga ayah. Sebenarnya aku menyesal, belum
saat nya nenek pergi, aku masih belum mewujudkan ciita-cita ku untuk bekerja di
perusahaan editor, layak nya orangtua meski aku terlambat mengatakan nya, nenek
menulis surat yang di selipkan di saku salah satu baju ku, dan isi suratnya, “ melihat mu bahagia, dan bisa
menerima segala hal yang terjadi di dunia ini dengan ikhlas, mau jadi apapun
nanti kamu, tidak perlu jadi pelatih tari atau bekerja di perusahaan editor,
cukup untuk ku bilang kamu berhasil. Doakan selalu nenek dan keluarga mu ini
yaa Neta ku”.
Tapi nek aku kini jadi seorang editor buku-buku terbaik
karya anak bangsa, dan aku bersyukur atas itu. Dan ayah mulai membuka toko
kecil dekat rumah, dengan bantuan dari kedua adik ku yang beranjak dewasa. Dan sanggar
tari nenek di penuhi banyak penari berbakat, yang terus berkarya di megahnya
panggung pentas. Aku menggapainya.
Komentar
Posting Komentar