RHEA
RHEA
Sejarah dan budaya atau
gaya bisa juga ciri khas, hal- hal ini menjadi sesuatu yang semakin melekat
dalam diri seorang wanita muda yang bernama Rhea.
Rhea anak sulung dari
kedua orangtua yang memiliki tiga orang anak. Perempuan ini sangat berambisi
dalam berimajinasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan waktu-waktunya yang
akan dia pakai untuk mencari dan mempelajari kehidupannya, dan hal itu di mulai sejak usianya masih anak-anak. Rhea sangat menginginkan orangtuanya
membebaskan Rhea untuk mewujudkan imajinasinya.
Rhea yang sejak dari
kecil sangat suka memperhatikan ciri khas seseorang hingga ke ciri khas
antar budaya yang ada di negara yang dia tempati, yaitu Indonesia. Rhea juga
senang sekali mendengarkan setiap perjalanan hidup seseorang bahkan dia sangat
suka dengan sejarah – sejarah yang di ceritakan oleh orangtua dan kakek neneknya. Rhea selalu ingin mempertanyakan setiap hal yang sudah dia temukan.
Awalnya perempuan ini lebih mengutamakan buku sebagai sumber jawaban dari
setiap pertanyaan - pertanyaannya,
tetapi kini semenjak umurnya beranjak remaja, Rhea mulai lebih suka mendengar,
membaca, dan merasakannya. Setiap sejarah dia telusuri, setiap budaya dia
jamah, setiap style dia coba.
Kini Rhea menjadi mahasiswa
aktif semester 4, dia menjadikan kuliah selain melanjutkan studi untuk mendapat
gelar atau untuk mempermudah dalam mencari pekerjaan di masa depan, tetapi
Rhea juga menjadikan kuliah sebagai jembatan penyambung atau puzzle sebagai
pelengkap struktur objek yang di tujunya, yaitu mencapai setiap imajinasinya.
Rhea merasa masa-masa
kuliahnya ini sungguh cocok dengan keinginan dan passion yang dia miliki, meskipun banyak sekali rintangan dan
hambatan yang mengikuti, sejauh ini dia bisa meng- handle nya. Di waktu selang kuliahnya, sudah pasti Rhea menggunakannya
untuk meng-explore imajinasi. Dia
mulai menjelajahi satu per satu, sedikit demi sedikit setiap tempat bersejarah
yang terdapat monumen-monumen daerah bahkan kenegaraan, selain itu menjelajahi tempat-tempat
di mana dia dapat menenangkan pikirannya, atau tempatnya berbagi kelebihan
yang dia miliki.
Beruntunglah Rhea, karena
dia mempunyai teman yang keseluruhan hampir mencapai kriteria yang Rhea inginkan
dari seorang teman. Teman yang mengerti tentang kondisi, keadaan, keberadaan dan,
kebersamaan, saling terbuka dan saling memahami satu
sama lain, meski tidak di pungkiri lagi bahwa dalam sebuah pertemanan pasti
akan ada yang namanya ke salahpahamman, tapi mungkin akan lebih baik hal itu
menjadi hal yang sementara, dan Rhea bersama teman-temannya mewujudkan
“sementara” itu.
Rhea bukan dari keluarga
yang serba cukup, melainkan dari keluarga yang sederhana. Dan Rhea menyadari
hal itu. Mewujudkan setiap imajinasinya yang dia anggap sebagai keinginan yang
di butuhkan sungguh tidaklah mudah. Bahkan setiap akan mewujudkannya meski di
mulai dari yang bisa di anggap masih bisa tercapai oleh kondisi dan keadaan
materialnya, Rhea masih harus mempertimbangkan dengan baik, karena Rhea ingat
bagaimana jika itu bisa memberatkan kedua orangtuanya. Rhea memutuskan untuk
mencari yang namanya kebutuhan material yang sebagian besar mempengaruhi setiap
jalannya kehidupan, apalagi di zaman yang sekarang ini. Sulit yang di rasakannya,
tetapi Rhea tidak berhenti, Rhea membentuk mindset-nya
dengan menganggap ini adalah salah satu jalan juga untuk mencapainya.
Rhea hanyalah seorang perempuan, perempuan yang tentu saja dengan
kodratnya yang memiliki sifat mudah lemah, mudah letih tidak sekuat kaum adam
pada kenyataannya. Rhea-pun sering merasa capek, lelah, malas untuk berpikir,
bergerak. Hingga pernah Rhea ingin berhenti sejenak, dan memulainya lagi
setelah dia mendapatkan kembali motivasinya. Dalam diamnya, dalam berhentinya
Rhea berusaha untuk memancing nalurinya untuk mengajak otaknya bekerja dan
memerintah kembali seluruh anggota tubuhnya bekerjasama mewujudkan yang terbaik
untuk dirinya terlebih dulu hingga keluarga yang di cintainya.
Rhea memang agak keras
kepala, sering kali dia membantah, berbohong, tetapi tak ada niatan dalam
hatinya untuk merusak dirinya sendiri apalagi mengecewakan kedua orangtuanya.
Sebagai anak pertama Rhea juga merasa bertanggung jawab atas adik-adiknya, dan
tentu saja Rhea akan sangat malu jika dia bisa melakukan kesalahan dan di lihat
oleh adik-adiknya. Karena itu, Rhea selalu berusaha menutupi keinginannya untuk
mewujudkan imajinasi yang di anggap sebagian keluarganya tidak terlalu penting,
tapi tidak begitu menurut Rhea.
Hingga kini Rhea masih
menjadikan buku dan pengalaman aktivitas nya sebagai mesin baginya untuk mengecek
kesalahan di masa lampau, dan untuk mempertimbangkan kemungkinan yang akan
terjadi di massa depannya.
Rhea mengikuti lomba
menulis yang sengaja dia ikuti untuk menuangkan pikirannya, untuk menyalurkan
hasrat seni menulisnya, dan untuk mendapatkan hadiah yang juga sangat di inginkannya. Bagi Rhea menulis memang kesukaan, tetapi dia belum cukup handal untuk
menjadi penulis profesional yang karyanya dapat merambah setiap permukaan
pemikiran penikmat karya tulis. Rhea masih saja menemukan sifat moody – an yang bisa menghambat
waktu mencapai deadline-nya. Meski
begitu Rhea selalu berusaha memaksakan diri untuk menyelesaikan apa yang sudah
dia mulai. Naskah cerpen itupun sudah Rhea kirimkan ke pihak yang membuka
peluang bagi penulis seperti Rhea, dengan rasa yang percaya diri, tetapi tidak
dengan terlalu berharap, Rhea memastikan tulisannya tidak terlalu buruk.
Sudah tiba waktunya
pengumuman pemenang lomba menulis, tetapi Rhea terlambat menyadari hari pada
saat tiba waktunya. Sudah sekitar
seminggu dari pengumuman pemenang itu, baru lah Rhea ingat, dan mengecek
e-mailnya. Rhea
berhasil menjadi juara pertama dengan hadiahnya untuk segera terbang melintasi
awan cerah menuju negeri paman sam, bertemu dengan patung liberti yang anggun
sekaligus tegas dalam penglihatannya. Betapa sesak di dadanya saat Rhea ingin
mencurahkan kebahagiaan yang baru saja dia rasakan. Rhea bergegas mengambil ponselnya dan mencari kontak dengan nama Mama, lalu
segera dia menelponnya dan sabar menunggu jawaban dari teleponnya.
Tersambunglah telepon itu dengan Mama nya, lalu Rhea memberitahu Mam nya
dengan tergesa-gesa seperti orang yang sangat kegirangan, hingga akhirnya air
mata bersyukurnya pun terlepas dari matanya. Isakkan yang terdengar
pula di telinga Rhea, kalimat-kalimat syukur dan bahagia yang terucap dari Mama
Rhea, membuat semakin pecah suasana pada hari itu.
Hari yang sangat mendukung
seorang remaja perempuan yang bersiap untuk terbang ke negeri paman sam dan untuk
pertama kalinya. Packing sudah di
siapkannya, doa restu sudah di pintanya, Rhea beranjak melangkahkan kakinya
menuju bandara yang akan menuju Amerika Serikat. Rasa bangga juga kekhawatiran
bercampur aduk yang di rasakan kedua orangtua Rhea juga adik-adiknya, bahkan
teman-temannya yang mendukung dan mengatarnya ke bandara, namun sedikit demi
sedikit dapat melebur dengan doa yang selalu menyertainya. Begitu pula yang di
rasakan Rhea sejak itu.
Pikiran yang sangat tidak
beraturan di dalam kepalanya, perlahan Rhea mengaturnya, mengatur setiap emosi yang ada di dalamnya.
Berdoa dan berharap akan mendapatkan pengalaman, ilmu yang bisa mewujudkan
imajinasi yang bahkan mungkin belum di ciptakan olehnya.
Bahkan sedang di atas awan
pun, Rhea tak dapat mengalihkan pandangannya pada keindahan yang tuhan
ciptakan, langit yang indah ini, meski hanya terang cahaya dan balutan awan
putih yang terlihat sungguh berbinar, tapi tak lama dia tertidur lelap. Hingga akhirnya sejam sebelum sampai Rhea terbangun dan
meminum air mineral yang ada di hadapannya. Tidak sabar untuk segera landing Rhea menantikan pemandangan baru
yang akan di terima oleh matanya. Sedikit berbincang dengan pihak panitia
lomba yang menemani trip Rhea ke negeri paman sam ini, mendapatkan beberapa
petunjuk untuk aktivitas yang akan di lakukan saat tiba nanti.
Menyaksikan langkah kakinya yang menuruni tangga pesawat yang berpijak di bandara negeri orang, negara
maju yang tentu saja sebagian besar menjadi idaman banyak orang. “Wish me luck for this time” kata pertama
yang terucap dalam hatinya saat pertama kali menginjakkan kakinya di atmosfer
AS.
Di sana Rhea mendapatkan
setiap fasilitas yang sangat mencukupinya. Untuk seminggu kedepan berada di
AS, Rhea sudah membuat list trip yang
akan dia lakukan selama satu minggu itu. Kamar hotel yang menghadap pemandangan
kota yang begitu berkilau di malam hari, dan itu adalah salah satu kenikmatan
dunia yang terbaik bagi Rhea. Dan di hotel ini, Hotel Murano yang terletak di 1320 Broadway Plaza, 98402, Tacoma, Amerika Serikat, Rhea
mendapati dirinya yang begitu bersyukur dan berharap ini adalah pengalaman
yang baik untuk masanya saat itu dan masa yang akan datang. Dengan secangkir
kopi yang dia buat sendiri di kamar hotelnya, yang memang menyediakan
fasilitas mesin kopi itu sendiri, Rhea melihat kilauan lampu malam kota Tacoma
yang belum sama sekali pernah terlintas di pandangan juga pikirnya, lewat
jendela dengan permukaan kaca yang cukup besar. Setelah itu Rhea mempersiapkan
untuk trip hari pertamanya, kamera pinjaman dari saudara nya, pakaian yang
menyesuaikan cuaca di sana yang sedang musim semi, sejumlah bekal uang,
perlengkapan shalatnya, dan buku panduan tripnya.
Pagi hari sekali, Rhea
terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak, dan bergegas melakukan kewajibannya
untuk ibadah shalat subuh, setelah itu Rhea prepare dirinya, sekitar
pukul 7 pagi Rhea ke lobi hotel untuk sarapan bersama pendampingnya sebut saja
Mba Tiara. Sarapan selesai, Rhea memulai perjalanannya. Terlintas di pikirannya
bahwa perjalanan ini, di waktu pada saat itu menjadikan seorang Rhea yang penuh
dengan pengetahuan dan pengalaman baru. Waktu-waktu yang sedang memberikan
Rhea pemahaman baru tentang perjalanan hidupnya. Berkat perjalanan ini, Rhea
mengenal banyak orang baru, tempat yang baru, dan ciri khas dari berbagai sudut
yang baru.
Siapa yang tau apa yang
akan terjadi dalam satu detik ke depan, dengan begitu Rhea selalu berhati-hati
dalam melakukan setiap aktivitas selalu mengira-ngira, mempertimbangkan
setiap peluang yang akan terjadi ke depannya. Dan ada satu hari pertama, dia
bertemu dengan sesama orang Indonesia yang sedang liburan di kota New York, dia
Rei yang juga menjadi kenalan baru Rhea di AS. Rei akhirnya menjadi teman barunya Rhea yang juga ikut menemani Rhea untuk mendapatkan hal-hal baru lagi di
perjalanan. Sudah ada tiga hari Rhea dan Rei saling mengenal, dan istilah
untuk dunia yang sempit memang bisa di akui literally, ternyata Rei
tinggal berada dekat dengan tempat tinggal Rhea di Bandung, Indonesia, tepatnya
di tempat Rhea kuliah, mereka satu Universitas hanya berbeda jurusan. Rei
berbeda keyakinnan agama dengan Rhea, tetapi Rhea mengagumi sifat toleransinya yang begitu sangat menghargai keyakinan yang di miliki Rhea, saat di
perjalanan mengelilingi sebagian kota di AS, Rei selalu bersedia menunggu Rhea
yang sedang memenuhi kewajiban agamanya, bahkan selalu mengingatkan Rhea untuk itu. Rhea pintar sekali untuk membaca kriteria
seseorang, karena memang itu sudah menjadi kebiasaannya sejak dari kecil,
dan Rhea tau Rei orang yang seperti apa. Rhea sangat senang dengan bersama Rei
yang begitu ramah, dengan sifat yang pemalu tetapi berani dan terbuka.
Mereka bertukar cerita tentang kesukaan dan ketidak sukaan mereka masing-masing,
mengomentari hal-hal kecil yang asik di perbincang kan, mengutarakan
masing-masing pendapat tentang sesuatu bahkan sempat mereka membahas tentang
agama mereka, dan mereka mendapati respon dari diri mereka masing-masing yang
mewakili perasaan dan pendapat yang saling di pahami dan di setujui.
Waktu yang begitu singkat
di rasa kan, namun begitu panjang dan banyak hal yang terjadi, dan Rhea sedang
berada pada waktu yang mereka sebut perpisahan, dengannya yang baru saja dia
kenal. Sudah waktunya Rhea berpisah dengan teman baru nya Rei yang akan terbang
kembali ke Indonesia lebih dulu. Sedangkan Rhea harus menghabiskan waktu dua
hari lagi di negeri paman sam yang penuh dengan suasana ramai dan
menyenangkan. Setiap waktu yang telah Rhea lalui, dia mengakui sungguh lelah
tetapi menyenangkan baginya, belum lagi betapa excited dia nanti untuk
mengutarakan beribu-ribu bahkan mungkin sejuta cerita kepada keluarga dan
teman-temannya di Indonesia. Imajinasi di pikirannya semakin mengada-ngada
saja, bahkan hal yang tidak di ingikan olehnya pun sempat singgah di Imajinasinya, memang tidak ada yang tidak mungkin katanya.
Saat tiba kembali ke waktu
di Indonesia, Rhea mencoba mengambil kembali rutinitasnya sebagai mahasiswa,
dan juga pejuang kelayakan hidup untuk kedua orangtua juga dua adiknya.
Cerita dan sedikit oleh-oleh sudah Rhea sampaikan pada semua, keluarga dan
teman-teman terdekat nya. Dokumentasi sebagai kenangan untuk masa yang akan
datang, kini sudah banyak dia kumpulkan. Dan satu lagi kenangan yang indah dia Rei teman baru Rhea, yang akhirnya mereka bertemu lagi. Rei memang orang yang bisa Rhea
sukai. Dan Rhea senang dengan waktu yang dia miliki bersamanya.
Hidup dengan ruang dan
waktu, membuat kita melalui banyak hal, menjelajahi waktu ke waktu dengan ruang
yang ada, memberi kita banyak kesempatan juga peluang untuk terus bertahan
menjelajahi setiap waktunya, hingga nanti akan ada saatnya untuk berhenti dan
melihat, juga mempertanggungjawabkan hasil yang di dapat dengan menghabiskan
waktu yang kita miliki. Time Travel, thats being the big part of her life. Rhea.
Komentar
Posting Komentar